Glow Run – Yogyakarta

Tentang Glow Run 5K – Yogyakarta

Glow run di Yogyakarta adalah acara lari 5k yang diselenggarakan sebagai ajang promosi sebuah pabrikan motor asal negeri sakura. Saya mengikuti acara ini karena memang suka lari, meskipun bukan pelari profesional, hanya sekadar lari untuk menjaga kesehatan saja. Maklum, selepas  kuliah, saya tidak melakukan olahraga selain lari, kadang bersepeda, dan lebih jarang lagi-berenang. Mengikuti glow run di Yogyakarta merupakan pengalaman yang menyusahkan dan menyenangkan, setidaknya itu yang saya alami.

glowrun0  

Pendaftaran

Saya melihat baliho glow run sekitar 3 minggu sebelum hari H di sebelah barat Mirota Kampus. Dikatakan bisa daftar offline (salah satunya melalui Damai Production) maupun online. Hari itu juga saya berusaha daftar online tapi belum ketemu ketika saya cari di web Yamaha. Akhirnya saya menghubungi Damai Production dan bisa daftar online. Namun saya tidak menerima email konfirmasi, meskipun saya mengirim bukti transfer melalui email alternatif. Setelah menghubungi Damai Production, saya membawa bukti transfer dan mengambil race pack ke kantor mereka di utara terminal Condong Catur. Namun baru kaos dan nomor dada yang bisa saya ambil. Glow stick dan pasta baru bisa diambil pukul 15.00-18.00 WIB di hari H. Menurut pengumuman, peserta sudah sekitar 2000 orang.

glowrun1

Race Day

Tanggal 26 April 2014 saya mengambil glow stick dan pasta pukul 5 sore. Alun-alun utara sudah ramai, baik pengunjung maupun peserta. Saya parkir motor di sisi utara area. Saya kaget ketika mengambil motor dimintai biaya parkir. Saya berikan 1000 rupiah, diminta petugas (yang tidak berseragam, dan saya tidak diberi karcis parkir) sejumlah 3000 rupiah sambil menunjukkan “karcis parkir” (yang tidak diberikan ke saya) . Yah, akhirnya saya kasih saja dan sebagai balasan saya dikasih muka seram (ya elah mas, udah dikasih masih ngajak cari perkara juga).

Saya kembali lagi ke lokasi dan siap lari pukul 18.30 WIB. Pembawa acara mengumumkan peserta 2400orang plus (saya lupa jumlah tepatnya) Nah disini “bibit kekacauan” mulai terjadi. Tidak ada panitia yang mengatur start. Hal ini diperparah dengan kurang koordinasi antara MC dengan seksi acara. Dengan acara “pembukaan instan”, count down dimulai dan peserta dilepas, sementara petugas lalu lintas belum siap. Terbukti dengan lalu lintas kendaraan dari tiga arah yang masih berjalan. Hasilnya, start agak terhenti dan sebagian besar peserta harus “berjalan” dan kesulitan berlari. Saya sendiri terpaksa “nyelip” di antara peserta yang berjalan, kendaraan baik bermotor, tidak bermotor, dan berbinatang :p. Arah di sekitar kantor pos besar tidak tambah baik, semakin macet. Saya terpaksa berlari di trotoar, dengan resiko kaki cedera karena jalur yang tidak rata. Resiko ini diperparah ketika saya berlari zig-zag menghindari: peserta lain, sepeda, motor, mobil, becak, andong, pedagang kaki lima, bis, dan terutama pejalan kaki. Praktis saya baru bisa mulai berlari selepas perempatan Gondomanan. fyuh

Sepanjang rute lari, panitia bekerja keras dengan baik untuk mengamankan kami (atau mengamankan pengguna jalan, dari kami, pelari jalanan). Jalan Gajah Mada, Hayam Wuruk, dan Mas Suharto relatif OK. Proses menyeberang ke Jalan Mataram pun aman juga. Di sekitar area parkir Abu Bakar Ali, jalan mulai macet sampai ke Malioboro dan Margo Mulyo (Ahmad Yani). Ada spot untuk berfoto (banyak peserta yang bahkan tidak butuh spot, mereka jalan atau lari sambil ber-tongsis ria), dan spot untuk mengambil minuman di Malioboro.

Masalah muncul (lagi) menjelang garis finish, mulai di depan pasar Beringharjo sampai finish di alun-alun utara. Masalahnya sama, macet karena bercampur dengan beraneka makhluk pengguna jalan “resmi”. Sesampainya garis finish, peserta diharuskan mengambil nomor yang sesuai dengan nomor dada masing-masing. Masalahnya, tidak ada panitia yang menjaga, sehingga nomor yang ada teracak-acak oleh peserta. Saya akhirnya menyerah dan tidak mengambil nomor. Hanya mengambil air mineral botol kecil sambil pendinginan, ngobrol dengan peserta lain yang dapat medali bernama mas Aldi. Medali diberikan pada 200 peserta putra dan 200 peserta putri finisher pertama. Saya berada sekitar 3 menit dibelakang peserta pria finish ke 200. Andai saya bisa lari “normal” lebih awal :(.

glowrun2

Lesson learned

Beberapa hal bisa dipetik hikmahnya. Banyak hal positif yang bisa dipertahankan, syukur bisa ditingkatkan, namun hal negatif perlu dikurangi, syukur bisa dihilangkan.

+ Race berjalan overall berjalan lancar. Kalau ada insiden kecil, bisa diperbaiki supaya lebih aman

+ Kesediaan pengguna jalan lain untuk mengalah. Terutama pengguna kendaraan dan pejalan kaki. Saya mohon maaf kalau waktu itu ada yang terganggu oleh para pelari, khusunya yang berbaju oranye 😀

– Proses pendaftaran bisa dibuat lebih terstruktur, kalau mau online sebaiknya sistem juga siap.

– Koordinasi antara panitia dengan pihak luar, misal petugas kepolisian HARUS ditingkatkan. Kasihan para polisi, yang tanpa glow run pun sudah susah payah mengurai macetnya area tersebut.

– Koordinasi internal panitia. Panitia HARUS menyiapkan personil yang bertanggung jawab pada posisi tertentu. “Hanya” kehilangan petugas di garis finish yang membagi nomor sesuai nomor dada menurut saya cukup fatal. Nomor itu digunakan untuk masuk area glow party, dan saya menduga, nomor tersebut juga digunakan untuk undian door prize. Kebetulan saya memang tidak terlalu “ngebet” keduanya, saya lalu pulang saja.

– Sebagai warga Yogyakarta, saya malu dengan tarif parkir yang ditetapkan seenaknya. Uang 3000 rupiah itu banyak, lipat tiga bila dibandingkan dengan tarif parkir kawasan I di Yogyakarta yang “hanya” 1000 rupiah. Alun-alun itu milik warga, Bung. Kalau Anda pengelola mall swasta, silakan saja. Atau kalau memang sudah ada aturan resmi menaikkan tarif parkir sebagai disinsentif kendaraan pribadi – supaya orang beralih ke moda transportasi umum – silakan saja. Tetapi tindakan Anda, menurut saya, itu korupsi besar-besaran. Bukan nilai uang, tetapi menaikkan tarif 3 kali lipat dibanding tarif resmi tertinggi itu biadab. Anda sekarang “tukang parkir” dadakan. Kalau Anda pejabat? Bisa dibayangkan betapa masif korupsi yang terjadi. Saya sms dinas perhubungan tentang masalah ini dan tidak ada balasan (semoga ditindaklanjuti dan ditertibkan (baca: diingatkan, sebelum diingatkan sama Yang Maha Kuasa))

Semoga ke depan acara massal seperti ini (dan yang lain juga) bisa lebih baik. Antusiasme warga Yogyakarta sangat baik, mengingat waktu dan promosi yang terbatas. Semoga pihak-pihak yang mengambil keuntungan “tidak halal dan beringas” juga disadarkan, sehingga image warga Yogyakarta yang ramah dan hangat bisa terjaga.

 

ars

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s